khairiyati

Teruslah menulis....mana tahu di antara tulisan kita bisa mengispirasi dan memotivasi orang lain... ...

Selengkapnya
Navigasi Web
Jam Kosong

Jam Kosong

Tantangan Gurusiana (Hari ke-25)

Suara riuh terdengar dari kelas sebelah. Anak-anak berteriak-teriak diikuti tawa renyah mereka yang terdengar lepas. Selidik punya selidik ternyata mereka tidak belajar karena guru yang mengajar tak kunjung datang. Tingkah mereka ini tentunya sangat menganggu kelas lain.

Beberapa dari mereka terlihat berjalan ke kantor untuk mencari tahu keberadaan guru yang akan mengajar di kelas mereka. Sesampainya di kantor, guru piket menjelaskan kalau gurunya tidak datang karena sakit namun ia meninggalkan tugas untuk mereka.

Wajah yang tadi ceria berubah menjadi kusut, keinginan mereka pupus sudah untuk pulang lebih awal. Dengan langkah gontai mereka menuju ke kelas dan mengerjakan dengan setengah hati tugas yang diberikan guru piket tadi. Tidak sampai setengah jam mereka kembali lagi ke kantor melaporkan bahwa tugas telah dikerjakan sambil membawa setumpuk buku latihan.

“Boleh pulang Buk?” serempak mereka berkata.

“Belum,” jawab guru piket dengan tegas.

Dengan kesal mereka memberontak karena keinginan mereka belum juga tercapai.

“Kenapa kami belum diperbolehkan pulang buk, padahal tugas sudah kami kerjakan,” jawab mereka dengan nada kesal.

“Kalian kan masih ada dua jam pelajaran lagi. Nah …berhubung ibuknya tidak datang dan tidak meninggalkan tugas. Bu Nisa bersedia menggantikan dengan pelajarannya.”

“Kami tidak bawa buku, Buk.” Mereka terus membuat alibi agar bisa secepatnya pulang.

“Tidak masalah…. kamu bawa buku atau tidak, tidak menjadi penghalang kegiatan belajar kita.” jawab bu Nisa menahan emosi yang mulai menyeruak di dadanya melihat sikap mereka.

“Tapi buk….” Mereka terus berusaha untuk menolak

“Ngak usah pake tapi-tapian segala sekarang kembali ke dalam kelas dan tunggu ibuk di sana, “ jawab bu Nisa sambil berjalan ke mejanya untuk mempersiapkan peralatan mengajarnya.

Bu Nisa bergegas berjalan menuju ke kelas VIII.6 karena jaraknya agak jauh dari kantor. Dengan sedikit terengah-engah ia sampai jua di kelas itu. Begitu mendekati kelas itu ia mendapati hanya beberapa orang yang berdiri di depan kelas, ia berfikir mungkin yang lainnya sedang di pustaka atau di kantin. Ia terus melangkah ke dalam dan meletakkan peralatan mengajarnya di atas meja. Anak-anak yang berdiri di depan kelas tadi mulai menduduki kursi mereka masing-masing. Bu Nisa mngangkat kepalanya sambil menghitung anak-anak yang ada di dalam kelas. Ia sangat terkejut karena jumlah mereka sangat sedikit dari yang seharusnya. Astaga…hanya lima orang yang bertahan di dalam kelas yang lain kemana??

“Mana yang lainnya,” tanya bu Nisa kebingungan.

“Sudah pulang buk, “ jawab Dina.

“Pulang….?” Bu Nisa menarik nafas dalam-dalam, ada kekecewaan yang teramat dalam ia rasakan. Keinginannya untuk mengajar anak-anak untuk mengisi jam kosong mereka ternyata sis-sia. Anak-anak lebih memilih pulang dari pada mendapatkan ilmu darinya.

“Bukankah ibuk menyuruh mereka untuk menunggu di kelas?”

“Mereka tidak mau bu, bahkan mereka mengancam kami kalau kami tidak pulang seperti mereka, tapi kami tidak mau,” jawab Dina.

“Ya sudah, kalau begitu pelajaran tidak mungkin kita lanjutkan, sekarang kamu boleh pulang,” katanya sedih. Ia bergegas merapikan barang yang dibawanya tadi sambil melangkah ke kantor majelis guru.

Baiti Jannati, 8 Februari 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search

New Post