khairiyati

Teruslah menulis....mana tahu di antara tulisan kita bisa mengispirasi dan memotivasi orang lain... ...

Selengkapnya
Navigasi Web
Menjaga Amanah

Menjaga Amanah

Tantangan Gurusiana (Hari ke-28)

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gungung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh. (Q.S Al Ahzab : 72)

Kata amanah sudah teramat sering kita dengar dan sebagian kita pun sudah mengetahui maknanya. Amanah artinya dapat dipercaya, suatu sikap yang dapat menunjukkan sikap tanggung jawab terhadap apa yang sudah dipercayakan kepadanya.

Bagi sebagian orang kata amanah ini suatu hal sangat gampang, sehingga mereka berusaha untuk dapat mengemban amanah dari orang lain tanpa memikirkan terlebih dahulu kesanggupannya. Padahal ayat di atas sudah semakin membuktikan bahwa amanah itu sesuatu yang berat, kamu tidak akan kuat kata Allah. Manusia dengan pongahnya berharap banyak amanah yang diberikan kepadanya.

Dan bagi sebagian orang amanah itu adalah hal yang sangat ditakuti dan seandainya bisa menghindar ia akan menjauh darinya. Tetapi orang tetap memaksa nya untuk mengemban amanah itu karena orang yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.

Hidup ini hanya titipan dari Allah, dan semua titipan Allah harus dijaga dan dipertanggung jawabkan. Diantara amanah yang harus kita jaga adalah:

1. Anak

Dalam sebuah keluarga kehadiran buah hati merupakan nikmat dan kebahagiaan yang tiada taranya. Tanpa kehadiran seorang anak ia akan merasakan ada ruang yang kosong di hatinya. Kehadiran seorang anak mampu memberi semangat untuk para orang tua agar lebih giat lagi bekerja. Kehadiran mereka membuat kehidupan orang tuanya berwarna.

Akan tetapi tidak semua orang tua menyadari bahwa anak-anak mereka adalah titipan dari Allah yang harus mereka jaga. Hal ini terlihat dari sikap sebagian orang tua yang lebih disibukkan oleh pekerjaannya dibanding mengurusi anak-anak mereka sendiri. Anak-anak dibiarkan tumbuh sendiri tanpa bimbingan, beusaha tertatih-tatih berjalan sendirian. Tidak dipungkiri kesibukan orang tua demi anak-anak juga, tetapi materi bukanlah satu-satunya yang paling mereka butuhkan. Berapa banyak anak-anak yang hidup dalam gelimangan harta tetapi haus akan perhatian dan kasih sayang

Ayah ibunya berpisah mengarungi hidup mereka sendiri-sendiri dan membiarkan si anak dalam pengasuhan orang lain. Dari latar belakang keluarga seperti ini tidak bisa disalahkan kalau anak kehilangan jati dirinya dan terjerumus kepada hal yang kurang baik.

Mari jaga buah hati kita dengan memberikan giizi yang cukup untuk jasmaninya dan memupuk jiwanya dengan hal-hal yang bermanfaat. Jangan sia-siakan amanah yang telah diberikan Allah kepada kita. Di luar sana begitu banyak keluarga yang menginginkan kehadiran seorang anak tetapi belum terkabulkan.

2. Harta

Kita dilahirkan oleh ibu kita tanpa membawa harga sedikitpun. Terlahir dalam keadaan tidak berpakaian. Tetapi lama-kelamaan kitapun mulai diberi pakaian oleh orang tua sampai nantinya kita bisa mencukupi kebutuhan kita sendiri.

Harta yang kita miliki hanyalah titipan Allah semata. Karena ia titipan maka kita diserahi tugas untuk menjaganya dengan baik, oleh karenanya harta harus dipergunakan dengan baik agar nantinya bisa menjadi wasilah menuju surga. Dan jangan sampai harta itu menghalangi dari mengingat Allah.

Sikap dari seorang sahabat Nabi yang bernama Suhib bin Sinan patut kita jadikan contoh. Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, ia pun punya keinginan yang sama secepatnya samapai di sana, akan tetapi orang kafir Quraisy menghalang-halangi keinginannya. Ia coba tawarkan hartanya kepada kafir Quraisy dengan cara menunjukkan dimana tempat penyimpanan hartanya di Mekah. Barulah kemumian kafir Quraisy membiarkannya untuk hijrah ke Madinah.

Karena sikapnya ini Allah mengabadikan kisahnya dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 207 dan surat At Taubah ayat 111.

Jangan sampai kita kebalikannya karena harta yang kita miliki membuat kita takut untuk meninggalkannya. Jadikan Harta sebagai sarana untuk menuju kampung akhirat.

3. Jabatan

Zaman sekarang kalau ditanya dan ditawarkan tentang jabatan hampir sebagian besar orang tidak punya ilmu untuk menolaknya. Bahkan ada yang sampai mati-matian memperolehnya walaupun dengan cara yang tidak lazim.

Sama halnya dengan anak dan harta, jabatan juga adalah titipan Allah kepada manusia. Karena ia hanya titipan jangan merasa hal itu milik kita seratus persen. Namanya titipan maka suatu saat kita harus siap pabila titipan itu diambil orang yang punya.

Jabatan yang didasari oleh sikap amanah, begitu jabatan itu hilang atau pergi kita tidak merasa kecil hati bahkan sakit hati. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh penglima umat Islam Khalid bin Walid. Ia menerima dengan lapang dada waktu dilengserkan dari jabatan panglima oleh Umar bin Khattab, dan diganti dengan Abu Ubaidillah. Walaupun sudah tidak menjadi panglima lagi beliau tetap berdiri digarda terdepan dalam membela panji-panji Islam. Karena motivasin ya bukan jabatan semata.

Setiap kita adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawabannya (H.R Bukhari : 4789). Mari kita sama-sama menjaga amanah yang telah dipercayakan Allah kepada kita, sebagai guru, sebagai orang tau sebagai pemimpin dan sebagai hamba.

Baiti jannati, 11 Februari 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search

New Post