khairiyati

Teruslah menulis....mana tahu di antara tulisan kita bisa mengispirasi dan memotivasi orang lain... ...

Selengkapnya
Navigasi Web
Tambuah Ciek

Tambuah Ciek

Tantangan Gurusiana (Hari ke-26)

Agenda rutin saya setiap hari Minggu adalah berbelanja ke pasar Ibuh. Pasar Ibuh adalah sebuah pasar tradisional yang terletak di bagian barat kota Payakumbuh. Pasar Ibuh terbagi dua blok barat dan blok timur. Pasar Ibuh yang terletak di blok timur ramai dikunjungi pembeli pada pagi hari, sementara yang blok barat ramai dikunjungi sore hari.

Mengapa hari Minggu yang dipilih? Dikarenakan kesibukan, maka hari Minggu selalu saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur selama seminggu. Mulai dari membeli daging, ikan segar, sayur-sayuran, cabe dan semua keperluan dapur lainnya.

Begitu selesai mengitari sudut-sudut pasar dan tas kresek pun sudah penuh terisi dengan barang belanjaan. Saya pun bergerak ke satu sudut yang ada di pasar tersebut. Pojok yang sering dikunjungi oleh orang-orang yang ingin memanjakan usus mereka. Nama tempatnya adalah Nasi Kapau Ni Yus.

Mungkin sebagian kita sudah kenal dengan Nasi Kapau. Nasi kapau ini berasal dari kota Bukittinggi, tepatnya dari nagari Kapau kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam. Kalau di kota Bukittinggi dibuatkan untuk mereka satu lokasi di Pasar Atas yang biasa disebut dengan los lambuang.

Sambal-sambal disusun dengan rapi sehingga mengundang selesa yang datang untuk mencobanya. Banyak pilihan rasa yang ditawarkan mulai dari randang ayam, gulai tunjang (kikil), gulai cubadak (nagka), gulai babek , gulai ikan batalua (gulai ikan yang ada telurnya), gulai tambunsu (usus sapi yang diisi dengan kocokan telur) dan tidak ketinggalan dendeng masiak (dendeng yang digoreng krispi) dengan cabe merahnya yang maknyus. Membuat orang yang memakannya tidak sanggup untuk menolak perkataan.

“Tambuah ciek, Ni.”(tambah satu kak).

Berbeda dengan yang menikmatinya secara langsung di tempat nasi Kapau Ni Yus, saya sering membelinya dengan dibungkus.

“Ni, Bungkuih ciek,” (Kak bungkus satu).

“Apo sambanyo Buk?” (apa sambalnya)

“Randang ayam jo tambuah sakali,ni ” (dengan rendang ayam dengan nasinya doble).

Dengan sigap Ni Yus mengambil daun pisang dan memasukkan nasi yang masih panas mengepul ke dalamnya, lalu menambahkan gulai kapau(gulai nangka yang tambah dengan kapang panjang dan kol), di tambah sedikit tambunsu, rendang ayam dengan bumbunya yang telah ditambahi dengan ubi (singkong) yang dipotong-potong dadu dan tidak lupa menamabahkan cabe merah. Mmm…membuat saya tidak sabaran lagi ingin cepat sampai di rumah.

Nasi bungkus yang di bawa pulang biasa porsinya jumbo, makanya saya lebih sering membelinya dengan cara dibungkus. Karena nantinya kami sekeluarga bisa memakannya bersama-sama. Dan lebih irit tentunya. Ha ha ha..dasar emak-emak..

Begitu sampai di rumah anak-anak tidak sabaran lagi untuk menyantapnya. Begitu bungkusannya dibuka dan aroma rendangnya menggoda hidung langsung saja semua tangan berebutan memasukkan nasi tersebut ke dalam mulut masing-masing. Nikmatnya..

Baiti Jannati, 9 Februari 2020.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search

New Post